Kapan Anda mulai Berkendara?

pengendara di bawah umur yang membahayakan diri dan sekitar

Masih ingatkah Anda kapan pertama kali berkendara? kapan bertama kali berlatih menggunakan sepeda motor dan akhirnya memutuskan untuk terjun dalam perjalanan yang sesungguhnya? sebuah pertanyaan dengan jawaban yang relatif pada masing-masing individu.

pengendara di bawah umur yang membahayakan diri dan sekitar

pengendara di bawah umur yang membahayakan diri dan sekitar

Saya pertama kali latihan dan kemudian berkendara dengan sepeda motor pada liburan kenaikan kelas V ke VI SD. Yaa sekitar pertengahan 2003, hampir 10 tahun yang lalu. Sudah ribuan kilometer saya tempuh di atas tunggangan kesayangan. Pertama pakai Supra 100, lalu Supra Fit dan sekarang pakai Blade yang setia menemani perjalanan dari Februari 2009.

Bukan akan bercerita mengenai pengalaman yang saya tempuh sepanjang ‘karir’ saya sebagai pengendara sepeda motor. Namun hanya ingin melempar sebuah pertanyaan mengusik: kapan sebaiknya seseorang mulai menggunakan sepeda motor? Kata tanya kapan merujuk pada sebuah waktu yang relatif berbeda bagi setiap orang. Bagi sebagian orang memulai naik sepeda motor ketika usia masih sangat belia. Sebagian lagi ketika beranjak dewasa. Dan mungkin juga ada sebagian yang baru mulai belajar berkendara ketika memasuki usia paruh baya.

Marilah kita bagi menjadi tiga masa menurut awalan berkendara: kanak-kanak, remaja dan dewasa. Batas usia di antara ketiganya seringkali berbeda-beda menurut definisi yang kita gunakan. Tapi aruhlah usia kanak-kanak itu seusia siswa sekolah dasar, remaja antara 12-21 tahun, dan dewasa >21 tahun. Masing-masing masa punya karakteristik sendiri-sendiri.

Kanak-kanak relatif belum siap secara fisik dan mental namun merupakan masa emas bagi proses pembelajaran. Makanya banyak pebalap sukses mengawali latihan dan berlomba sejak usia dini. Namun untuk karakter jalan raya saya kira masih sangat labil untuk kanak-kanak mengendarai sepeda motor. Kondisi ini diperparah sikap permisif, bahkan bangga dari orangtua kepada anaknya yang bisa mengendarai sepeda motor.

Remaja relatif lebih siap secara fisik namun masih mengalami masa perkembangan yang pesat dan labil secara emosional. Masa pencarian jati diri remaja banyak yang berujung pada perilaku buruk berkendara yang membahayakan dirinya dan orang lain. Meski demikian, di golongan usia ini SIM sudah bisa diperoleh secara legal pada usia 17 tahun.

Usia dewasa sudah sangat matang secara fisik dan mental. Namun demikian mengawali belajar dari usia dewasa bisa dibilang agak telat. Sense of riding sulit diperoleh dibanding bagi yang memulai belajar berkendara dari usia dini. Meski demikian, usia ini relatif matang di jalan raya dan jarang melakukan manuver berbahaya ala passionate riding.

Ketiga awalan usia belajar berkendara di atas tidak mutlak menentukan karakter berkendara seseorang. Karena banyak faktor lain yang mempengaruhi karakter berkendara, terutama terkait keselamatan berkendara. Faktor pengetahuan/pendidikan, fisik, jenis kelamin, kesadaran dan pengalaman bisa ditambahkan sebagai variabel bagi pembentukan karakter berkendara seseorang.

Meski demikian kita sama-sama prihatin dengan kondisi di jalan raya yang menempatkan kanak-kanak hingga remaja awal sebagai pengguna jalan aktif. Mereka dibiarkan mengendarai sepeda motor dengan berbagai alasan. Sebagai kanak-kanak/remaja awal tentu antusias menggunakan kendaraan yang menyenangkan tersebut. Tapi aturan legal mengenai batas minimal pengendara sepeda motor dibuat bukan tanpa alasan yang kuat. Kebanyakan kanak-kanak/remaja awal belum mampu menjadi pengendara yang baik dan aman. Mulai dari perilaku, pengalaman dan kelengkapan berkendara yang kurang. Keselamatan bersama adalah sesuatu yang mutlak untuk dicapai. Sayangnya orang tua sebagai figur pendidik utama anak seringkali abai akan hal tersebut. Selain keselamatan, faktor perkembangan psikologis menjadi pertimbangan tersendiri karena sepeda motor dapat membuat anak tumbuh menjadi lebih arogan. Efisiensi sepeda motor menjadi pertimbangan utama mengapa orang tua memberikan keleluasaan anaknya bersepeda motor (bahkan untuk pergi ke sekolah). Yaa… karena tidak ada (atau belum ada?) alternatif transportasi yang cukup efisien dari sisi ekonomi dan waktu dibanding sepeda motor.

Akhirnya saya hanya bisa bersyukur karena memulai berkendara dari usia yang cukup labil dan mampu mempertahankan predikat sebagai pengendara yang baik (self proclaimed).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s